Senin, 02 Mei 2011

NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM SHADAQAH


Bershadaqah pada hakekatnya merupakan salah satu anjuran dalam Islam, sesuai dengan petunjuk yang telah dititahkan dalam Al­ Qur-an dan hadits, karena mengingat di dalamnya mengandung nilai-nilai pendidikan yaitu dapat mendidik rasa sosial pada anak, mempertebal ukhwah Islamiyah, melatih berbuat kebaikan dan sekaligus menanggulangi serta memberantas kemiskinan.
A. Kesetiakawanan Sosial

Setiap manusia yang hidup di dunia ini tidak dapat berdiri sendiri, melainkan saling bergantungan antara satu sama lainnya.Toni Sukasah menjelaskan bahwa: "Di antara masyarakat yang berkualitas harus mempunyai ciri taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, mempunyai rasa kesetiakawanan sosial yang berskala nasional".[1]
Karena itu pewarisan nilai-nilai pendidikan kepada anak melalui anjuran dan latihan bershadaqah akan melahirkan serta mempertebal rasa kesetiakawanan sosial, antara lain dapat :
1. Menumbuhkan rasa kekeluargaan.
Anak merupakan makhluk sosial, artinya saling membutuhkan sesamanya untuk hidup bermasyarakat, di antara mereka saling terjadi interaksi sosial sehingga timbul komunikasi timbal batik sesuai dengan tingkat kemampuan dan kebutuhan masing-masing. Setiap orang tua perlu membiasakan anak untuk suka memberi atau menolong, sehingga rasa kekeluargaan tertanam pada diri anak. Dengan demikian anak mudah menvesuaikan diri dalam hidup bermasyarakat.
Pada bagian lain Toni Sukasah, mengatakan:"Keluarga adalab lingkungan yang paling karib bagi anak, dalam keluarga inilah diletakkan dasar-dasar yang menentukan perkembangan anak Selanjutnya."[2]
Ajaran Islam memberikan pedoman dalam hal pembinaan anak, guna tercipta keseimbangan antara hidup individu dan kehidupan masyarakat. Apabila kehidupan ini dapat dipupuk secara harmonis, maka rasa kekeluargaan tumbuh dan berkembang dengan baik dalam jiwa anak.
Hal ini merupakan salah satu realisasi nilai pendidikan, seperti menganjurkan anak memberi shadaqah kepada peminta-pemintaa atau melatih anak untuk suka memberikan sesuatu kepada saudaranya. Hubungan antara individu dengan masyarakat bagaikan satu kesatuan yang utuh, adanya toleransi dalam kehidupan keluarga merupakan unsur kesetiakawanan sosial.
2. Menumbuhkan aktivitas tolong-menolong.
Setiap orang tua perlu menumbuhkan aktivitas tolong­-menolong kepada anaknya, karena setiap yang hidup di alam semesta ini saling ketergantungan antara satu sama lainnya. Semangat tolong­-menolong yang ditanamkan pada anak-anak akan menjiwai kepribadiannya dalam hidup bermasyarakat.
Ajaran Islam mengatur hubungan individu dengan masyarakat, saling menolong dan harga-menghargai sesama. Mendidik anak untuk suka bershadaqah adalah suatu cara menumbuhkan kepribadian anak dalam hal tolong-menolong sebagai perwujudan rasa kesetiakawanan sosia ini merupakan suatu kebaikan dan ciri jiwa yang taqwa.
Sehubungan dengan ini Allah SWT berfirman dalam surat Al-maidah ayat: 2
وتعا ونواعلى البروالتقوى ولا تعا ونواعلى االإثم والعدوان(المائدة :٢)
Artinya: Tolong-menolonglah kamu dalam berbuat kebaikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. (Q.S. Al-Maidah: 2)
Islam juga memberi pedoman tentang prinsip-prinsip hubungan individu dengan masyarakat secara timbal balik atau yang disebut dengan solidaritas. Sistem solidaritas tidak hanya dengan bantuan materil saja, tetapi dalam bentuk apa pun juga menurut yang ma'ruf dan tidak bertentangan dengan prinsip dan norma keislaman. Seperti hubungan ekonomi atau interaksi kekuangan dan lain-lain.
Hal ini sesuai dengan perkataan Sayyid Quthub:
Solidaritas dalam Islam adalah bahwa hal ini menjadi suatu sistem untuk pendidikan jiwa dan hati nurani individu, kepribadiannya dan tingkat sosialnya dan bahwa ia merupakan suatu sistem untuk hubungan-hubungan kemasyarakatan di mana termasuk hubungan yang menghubungkan individu dengan negara dan pada akhirnya ia merupakan sistem untuk interaksi keuangan, hubungan perekonomian yang dominan dalam masayarakat Islam.[3]

3. Semangat cinta kebangsaan.

Suatu hal yang mutlak, terbentuk suatu bangsa apabila adanya kebersamaan untuk bersatu dan adanya semangat senasib sepenanggungan untuk kepentingan bersama. Karena itu terwujudnya cinta kebangsaan tergantung potensi bersama dalam kebersamaannya sebagai suatu kesatuan yang nyata. Nilai-nilai pendidikan inilah yang perlu ditanamkan pada anak, shadaqah juga akan membangkitkan semangat cinta kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam perspektif kehidupan dan kelangsungan hidup suatu bangsa, anak merupakan sumber harapan dan kekuatan. Bahwa sumber daya manusia sangat potensial dan menentukan, karena itu perlu dipersiapkan melalui pendidikan, diberi bekal, dicukupi kebutuhannya, agar dengan demikian ia tumbuh menjadi potensial yang berkualitas dan kuat untuk menyongsong masa depan. Shadaqah yang kita berikan membantu proses pembangunan suatu bangsa. Karena itu kepada anak perlu ditanamkan penghayatan, dan penjabaran nilai-nilai dasar yang bersumber pada ideologi serta pandangan hidup bangsa.
Anjuran bershadaqah yang ditanamkan pada jiwa anak adala.h sangat tepat, karena anak yang dalam jiwanya tertanam kesetiakawanan sosial dan kebersamaan, maka kelak ia akan menjadi seorang yang dermawan yang akan selalu membantu sesamanya. Hal ini akan menciptakan kondisi hidup dan kehidupan yang berketuhanan Yang Maha Esa, yang mengajarkan pentingnya kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan keadilan sosial.

B. Mempertebal Ukhwah Islamiyah
Dalam mempertebal Ukhwab Islamiyah dalam kehidupan sehari-hari., perlu dipupuk atara lain:
1. Ikatan persaudaraan.
Shadaqah memberikan pengaruh yang sangat besar manfaatnya untuk mempererat ikatan persaudaraan di antara umat Islam. Orang Islam adalah bersaudara antara satu sama lain, karena itu beban yang dialami oleh saudaranya yang kurang mampu ikut dirasakan bagi yang berkecukupan. Betapa kuat ikatan persaudaraan ini, Rasulullah menegaskan dalam sabdanya:
عن ابى هريرة قال رسول الله صلى الله عليه وسلم المسلم اخواالمسلم لا يظلمه ولا يحز له ولا يكذب ولايحقر (رواه البخا رى)

Artinya:  Dari Abu Hurairah, bersabda Rasulullah SAW, orang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, maka jangan menganiaya, jangan merendahkan, jangan membohonginya dan   jangan pula menghinanya.(H.R. Bukhari)[4]
Berdasarkan hadits tersebut di atas, Islam mengajarkan persaudaraan sesama muslim laksana sebuah bangunan antara satu sama lainnya bersaudara, saling menolong. Bila hadits tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka umat Islam akan menjadi umat yang kuat, tidak dapat dipecahkan dan dihancurkan oleh umat lain.
2. Persatuan dan Kesatuan.
Setiap orang Islam harus memelihara persatuan dan kesatuan dengan berpegang teguh pada agama Allah, begitu pula orang tua perlu menumbuhkan rasa ukhwah Islamiyah pada anak, agar terciptanya persatuan dan kesatuan dalam kehidupan bermasyarakat. Upaya yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah dengan menganjurkan anak untuk suka bershadaqah atau berbuat baik sesama umat manusia.
Shadaqah dapat bernilai memeprsatukan umat, karena tetap berpegang pada anjuran agama, hal ini sesuai dengan firman Allah SWT :
واعتصمواحبل الله جميعاولا تفرقوا (ال عمران :١٠٣)
ِ
Artinya:  Berpegang teguhlah kamu semua pada jalan Allah dan janganlah  kamu bercerai-berai... (Q.S. Ali Imran: 103)
      
Dalam hal ini Hasbi Ash-Shiddieq mengatakan:
Persatuan dalam Islam bukan hanya tampak secara lahiriyah saja, akan tetapi persatuan lahir batin, persaudaraan yang didasarkan atas taqwa kepada Allah SWT, dan tidak ada perbedaan antara satu dengan yang lain untuk menjadi alasan berselisih dan berpecah belah.[5]
Anak adalah makhluk sosial atau indnvidu yang merupakan anggota masyarakat. Karena itu dalam berpikir, bertingkah laku, berbicara dan sebagainya terikat dengan masyarakat.
3. Lambang ketaqwaan.
Pembinaan ukhwah Islamnyah dapat ditempuh melalui penanaman nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam bershadaqah, di mana orang yang gemar bershadaqah akan melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat untuk kepentingan agama adalah melambangkan ketaqwaan. Manusia tidak ada dengan sendirinya, tetapi merupakan makhluk ciptaan Tuhan. Sebagai ciptaan Tuhan, manusia wajib mengabdi kepada Tuhan. Pengabdian berarti penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan sebagai lambang ketaqwaan.
Karena itu pengabdian memerlukan pengorbanan demi kebenaran, manusia tidak merasa sayang mengeluarkan harta yang dicintainya dan tenaga yang ada pada dirinya untuk membantu saudaranya yang membutuhkan pertolongan. Islam memberi penegasan, bahwa yang termulia di sisi Allah ialah yang paling taqwa, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Hujurat ayat : 13
... إن اكر مكم عند الله اتقاكم...( ألحجرات :١٣)

Artinya: Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling bertaqwa di antar kamu... (Q.S. Al-Hujura: 13).
Amak FZ mengatakan: "Ikatan persaudaraan di dalam Islam didasarkan pada persaudaraan dan persaudaraan itu dikuatkan dengan rasa taqwa kepada Allah, itulah satu-satunya senjata yang paling ampuh untuk mengikat persatuan dan kesatuan."[6]
C. Melatih Berbuat Kebaikan
Melatih dan membiasakan anak berbuat kebaikan merupakan kewajiban setiap orang tua, karena orang tualah yang bertanggung jawab terhadap pembinaan dan pembentukan kepribadiaan anak, baik untuk kehidupan di dunia maupun kesejahteraan di hari akhirat nanti. Anak sebagai amanah Allah yang dititipkan pada orang tuanya, wajib memelihara, membina dan mendidik kepribadiannya secara baik. Sebelum anak mengenal lingkungan pendidikannya, lebih dahulu anak mengenal lingkungan keluarganya, karena orang tuanya adalah guru pertama bagi anak-anaknya.
Di samping menanamkan aqidah, moral dan amal kebaikan lainnya, orang tua harus membentuk pribadi anak melalui latihan dan dorongan berbuat kebaikan, sehingga tampak di kemudian hari anak tersebut akan menjadi anak yang berbudi - luhur dan berakhlak dengan akhlakul karimah. Orang tua harus mampu memberi teladan yang baik, karena keteladanan orang tua memberi pengaruh terhadap pendidikan kepribadian anak.
Pengaruh yang baik hanya bisa diharapkan dari orang-orang yang memperhatikan pribadinya, bingga orang-orang dia sekitarnya bisa jatuh hati dan tertarik pada periklakunya, dan kesopanannya. Dengan demikian mereka mengambil sifat-sifat baiknya dan mengikuti jejaknya karena terpikat dan cinta sejati kepadanya.[7]

Pendidikan anak secara menyeluruh dan membiasakan berbuat kebaikan, yang lebih berperan adalah ibu. Karena ibu merupakan pendidikan pertama dan utama dalam upaya meletakkan dasar-dasar utamaa dan pemberian stimulasi guna memungkinkan anak tumbuh dan berkembang, baik berkenaan dengan jasmani dan rohani.
Peran ibu dalam mendidik anak berbuat kebaikan ini tidak terbatas pada interaksi dalam keluarga saja, kegiatan mendidik ini juga berlangsung melalui tuntunan agama dalam mecapai manusia muslim yang seutuhnya yaitu bahagia dunia dan mendapat kesenangan di akhirat kelak, inilah ciri manusia yang dikehendaki oleh agama dan orang tua.

D. Pengentasan Kemiskinan
Kemiskinan merupakan problema sosial yang erat kaitannya dengan kesejahteraan hidup, memiliki hubungan timbal balik dengan masalah pendidikan. Karena itu untuk pengentasan kemiskinan perlu ditempuh upaya-upaya:
1.      Peningkatan Taraf Hidup.
Pekerjaan yang dapat meningkatkan penghasilan umumnya memerlukan pandidikan yang memadai, dalam arti peningkatan kualitas sumber daya manusia. Fungsi pendidikan bagi kaum miskin terletak pada peranannya dalam memperlebarkan alih propisi., sehingga tingkat kesejahteraan hidup akan meningkat. Keberhasilan dunia pendidikan dalam membantu mengentaskan kemiskinan sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan kemauan di dalam menciptakan materi dan sistem pengajaran sesuai dengan tingkat perkembangan yang beragam dan tuntutan dunia kerja di antara kaum miskin.
Islam menganjurkan supaya setiap muslim mempunyai kelebihan untuk meningkatkan taraf hidup mereka yang tertinggal, dalam pada itu kelebihan tidak mutlak harus ditafsirkan sebagai kelebihan materi saja, hal ini penting guna tidak akan timbul kesenjangan atau kecemburuan sosial.
Untuk peningkatan taraf hidup diperlukan kerja keras dan tidak berpangku tangan menyerah diri pada nasib, tetapi harus dengan berusaha. Ini sesuai dengan firman-Nya dalam surat Ar-ra’du, ayat 11:
إن الله لا يغيرمابقوم حتى يغيرواما بأ نفسهم (الرعد: ١١)

Artinya:  Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (Q.S. Ar-Ra'du: 11)

Seluruh lapisan masyarakat perlu berjuang dalam hal peningkatan taraf hidup, dengan kata lain keseluruhan masyarakat dapat merasakan atau saling tenggang rasa, saling membutuh dan tetap sadar akan kepentingan kehidupan bersama secara aman, dalam ridha Allah SWT.
2.      Meningkatkan pendapatan.
Dalam upaya pengentasan kemiskinan perlu ditempuh langkah-langkah untuk memperbaiki dan meningkatkan pendapatan, guna terciptanya kesejahteraan sosial. Pemberian shadaqah atau bantuan yang disalurkan kepada masyarakat yang taraf hidupnya masih tertingal, akan dapat membuka lapangan kerja baru atau kesempatan berusaha.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar